Batu Bara, penanasional.id — Di bawah semilir angin pesisir Desa lalang dan berpayung langit senja Pantai Sujono, sejarah kembali ditorehkan oleh masyarakat Melayu Batu Bara. Dalam suasana yang sarat dengan nilai adat dan kebesaran warisan leluhur, Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara menganugerahkan gelar kehormatan adat kepada dua putra terbaik daerah sebagai tanda penghormatan atas jasa, pengabdian, serta komitmen mereka dalam menjaga marwah Melayu. Kamis, 04/06/2026
Prosesi yang berlangsung bertepatan dengan 17 Zulhijjah 1447 Hijriah itu menjadi salah satu momen paling khidmat dalam rangkaian Pelantikan Pengurus Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara Periode 2026–2031.
Adapun tokoh yang menerima amanah adat tersebut adalah Abdul Kholid Zailani, yang dianugerahi gelar Dato’ Panglima Askar Diraja, serta Mislan Bin Arisum, yang menerima gelar Dato’ Bentara Sabda.
Penganugerahan dilakukan oleh Ketua Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara, OK Khairul Amri bergelar Dato’ Setiawangsa II, didampingi para pemangku adat dari berbagai kedatukan, yakni Dato’ Seri Gahara Kedatukan Lima Puluh, Dato’ Tanjung Limau Purut Muhammad Yusuf, serta Dato’ Panglima Hitam Setia Diraja OK Muhammad Rachel. Prosesi turut disaksikan oleh Dewan Pakar Budaya OK Zulfani Anhar dan Sekretaris Majelis Raisha Ramadhan.

Bak pepatah Melayu yang menyebut “yang tua dimuliakan, yang berjasa dikenangkan,” gelar adat yang dianugerahkan bukanlah sekadar penghias nama, melainkan amanah yang lahir dari musyawarah para pemangku sembilan kedatukan serta pertimbangan mendalam Dewan Pakar Budaya.
Gelar Dato’ Panglima Askar Diraja melambangkan sosok penjaga kehormatan dan benteng marwah adat Melayu. Sementara Dato’ Bentara Sabda merupakan lambang kepercayaan kepada seorang tokoh yang mampu menyampaikan petuah, menjaga pesan adat, dan menjadi penyambung nilai-nilai luhur di tengah masyarakat.
Prosesi berlangsung penuh khidmat sesuai tata cara adat Melayu. Dimulai dengan pembacaan pertimbangan penganugerahan, dilanjutkan pengucapan ikrar adat, hingga penyematan tanda kehormatan sebagai simbol penerimaan amanah. Kedua penerima gelar tampil anggun mengenakan busana Teluk Belanga, tanjak, kain songket, serta medali kehormatan yang mempertegas kebesaran adat Melayu Batu Bara.
Sekretaris Panitia, Raisha Ramadhan, menegaskan bahwa gelar adat merupakan tanggung jawab moral yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan.
“Gelar adat adalah amanah yang mengandung tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan meneruskan warisan budaya Melayu kepada generasi berikutnya. Kami berharap para penerima gelar dapat menjadi teladan dan turut memperkuat peran Majelis Kedatukan dalam pelestarian adat serta budaya Melayu Batu Bara,” ujarnya.
Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara sendiri merupakan payung adat yang menaungi sembilan kedatukan bersejarah di Kabupaten Batu Bara, yakni Kedatukan Lima Puluh, Pesisir, Lima Laras, Bogak, Tanjung Kasau, Sipare-pare, Pagurawan, Tanjung Limau Purut, dan Tanah Datar.
Melalui penganugerahan ini, Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara berharap semangat menjaga warisan leluhur terus bersemi, agar adat tidak sekadar menjadi kenangan masa silam, tetapi tetap hidup sebagai cahaya penuntun bagi generasi Melayu di masa hadapan. (RED)
“Tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas; adat dijunjung, marwah Melayu dipertahankan.”
