Batu Bara, penanasional.id — Di tengah riak ombak yang tak selalu bersahabat, sebuah kisah tentang kepedulian dan keteguhan hati kembali terukir di perairan Kuala Indah. Insiden kecelakaan laut yang menimpa seorang nelayan bukan hanya menghadirkan duka, tetapi juga menyalakan cahaya solidaritas di antara sesama anak laut. Selasa, 05/05/2026
Polairud Kabupaten Batu Bara hadir bak jangkar di tengah badai—teguh, sigap, dan menenangkan. Di bawah komando Kanit Markas, IBDA Handrico P. Kaban, SH., MH, laporan pengaduan masyarakat dari seorang nelayan muda, Nanda Gunawan (22), langsung disambut dengan langkah cepat. Sampan yang karam, diduga akibat ditabrak kapal pukat apung di perairan Jermal 4, menjadi awal dari upaya panjang mencari keadilan di hamparan laut yang luas.
Namun, Polairud tak sekadar menelusuri jejak pelaku yang masih samar. Lebih dari itu, mereka merajut benang-benang komunikasi, merangkul kelompok nelayan, dan mengetuk pintu-pintu kepedulian dari pengelola pukat apung di Asahan hingga Tanjung Balai. Pendekatan yang digunakan bukan hanya hukum, tetapi juga hati—sebuah bahasa yang lebih mudah dipahami oleh mereka yang hidup dari laut.
Meski pelaku belum teridentifikasi, langkah ini melahirkan gelombang kebaikan. Dari kepedulian yang mengalir, bantuan pun berdatangan—bagai air tawar di tengah lautan asin—memberi harapan baru bagi korban untuk kembali menantang ombak.
“Kami tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung dan pemberi solusi. Pendekatan humanis adalah jembatan kepercayaan antara kami dan masyarakat pesisir,” IBDA Handrico P. Kaban, SH., MH, dengan nada yang mencerminkan komitmen.
Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tanjung Balai, di bawah kepemimpinan Selamat Caniago, bergerak laksana angin yang menggerakkan layar. Begitu mendapat kabar dari Polairud, mereka segera menggalang kekuatan, menghubungkan berbagai yayasan pukat apung, dan mengumpulkan bantuan sebagai wujud nyata solidaritas.
“Ini adalah panggilan nurani. Di laut, kita semua bersaudara. Ketika satu jatuh, yang lain harus mengulurkan tangan,” ungkap perwakilan HNSI, Bapak Safrul.
Respons masyarakat pun hangat, seperti mentari pagi yang menyinari harapan baru. Polairud dinilai bukan sekadar aparat, tetapi juga sahabat bagi masyarakat pesisir hadir di saat sulit, memberi arti di tengah ketidakpastian.
Dengan mata yang masih menyimpan haru, Nanda Gunawan menyampaikan rasa terima kasihnya. “Saya tidak sendiri. Bantuan ini bukan hanya materi, tapi semangat untuk bangkit dan kembali melaut,” tuturnya.
Kisah ini menjadi bukti bahwa di tengah kerasnya kehidupan laut, masih ada kelembutan hati yang mengikat. Kolaborasi antara aparat dan nelayan menjadi jaring kuat yang bukan hanya menangkap ikan, tetapi juga menampung harapan dan kemanusiaan.
— RED —
