Batu Bara, penanasional.id — Di ujung Ramadhan yang kian menua, ketika langit seolah menahan cahaya senja lebih lama, ada tangan-tangan yang tak tinggal diam. Kepedulian itu bergerak, menyusuri lorong-lorong desa, mengetuk pintu-pintu harapan yang sederhana. Rabu, 18/03/26
Adalah H. Sugiat Santoso, SE, MSP, Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumatera Utara, yang menghadirkan makna berbagi melalui penyaluran paket Lebaran kepada masyarakat di Kabupaten Batu Bara. Bukan sekadar bantuan, melainkan denyut empati yang menjelma nyata di saat kebutuhan dan harapan saling bertemu.
Tiga desa menjadi panggung sunyi dari kisah ini: Desa Simpang Gambus, Kecamatan Lima Puluh; Desa Indrayaman, Kecamatan Talawi; dan Desa Pakam, Kecamatan Medang Deras. Di sana, paket-paket Lebaran berpindah tangan—namun yang sesungguhnya berpindah adalah rasa peduli yang tak terucap panjang.
Penyaluran dilakukan oleh Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Kabupaten Batu Bara, Rahmad Zein, bersama jajaran pengurus. Bertempat di kediaman Bendahara DPC PTI, M. Rinanda, di Desa Pakam, suasana berlangsung hangat. Setiap senyum yang merekah, seolah menjadi saksi bahwa kebaikan tidak pernah datang sia-sia.
“Kami hanya penyambung tangan dari amanah ini. Semoga apa yang diberikan tidak hanya cukup untuk kebutuhan, tetapi juga menguatkan kebahagiaan masyarakat menjelang hari raya,” ujar Rahmad Zein, dengan nada yang sederhana namun sarat makna.
Di antara kerumunan itu, suara syukur mengalir pelan namun dalam. Maysarah, salah seorang penerima manfaat, memeluk bantuan itu seperti memeluk harapan yang lama dinanti.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian ini. Semoga Bapak H. Sugiat Santoso selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam menjalankan amanahnya,” ucapnya, lirih namun penuh doa.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah jembatan rasa—yang menghubungkan mereka yang memberi dengan mereka yang menerima. Di tengah dunia yang kerap riuh oleh kepentingan, momen ini menjadi pengingat: bahwa kebaikan, sekecil apa pun, mampu menggema lebih jauh dari yang kita bayangkan.
Dan ketika takbir benar-benar berkumandang, mungkin di antara gema itu, terselip doa-doa tulus dari mereka yang hatinya telah disentuh—mengalir, menembus langit, membawa nama-nama yang telah memilih untuk peduli. (Red)
