Batubara, penanasional.id — Kebakaran hebat melanda Dusun IV, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batubara. Kamis siang (28/8), perkampungan warga seketika berubah menjadi lautan api. Rumah-rumah dilalap si jago merah, asap pekat menutup langit, jeritan histeris bercampur tangisan anak-anak menciptakan suasana mencekam. 29/08/2025

Suasana semakin dramatis ketika mobil pemadam kebakaran (Damkar) milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara tiba di lokasi. Dengan sirene meraung, petugas bergegas turun, berlari melawan waktu untuk menjinakkan api yang kian membesar.
Namun kedatangan mereka bukan disambut lega. Justru, oknum warga yang kalap melempari dan memecahkan kaca mobil Damkar. Seakan keterlambatan sepenuhnya menjadi kesalahan petugas, tanpa ada yang mau memahami perjuangan mereka di jalan.
Meski menghadapi perlakuan pahit, para petugas tetap fokus bertugas. Api harus dipadamkan, nyawa harus diselamatkan—tak ada waktu membalas kata-kata kasar atau meratapi kaca mobil yang hancur.

Di tengah viralnya peristiwa tersebut, sebuah unggahan Facebook dari akun berinisial IrH menarik perhatian publik. Dalam video yang diunggah, seorang petugas Damkar menyampaikan sindiran halus bercampur ucapan terima kasih kepada warga.
“Terima kasih untuk warga Perupuk telah memberikan kami oleh-oleh. Karena pertama kali kami pergi kaca ini belum seperti ini. Disaat kami pulang, mendapat bingkisan hiasan laba-laba di kaca mobil kami,” ujarnya dalam video tersebut.
Unggahan itu menambah sorotan tajam terhadap insiden ini. Sebab realita di lapangan sungguh pahit: petugas Damkar datang berjuang memadamkan api, namun pulang dengan kaca mobil pecah, tuduhan terlambat, dan tanpa seucap terima kasih.
Dusun IV, Desa Perupuk, kini bukan hanya saksi kebakaran besar, melainkan juga saksi betapa mudahnya masyarakat melampiaskan amarah. Sementara itu, tugas mulia petugas Damkar kerap kali tak dihargai, meski mereka mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan keselamatan diri.
Lolongan sirene itu sejatinya bukan jeritan minta terima kasih. Itu adalah panggilan tugas, nyanyian pengorbanan yang tidak semua orang mampu memahaminya.
Redaksi | Pena Nasional
