KUALA TANJUNG, penanasional.id — Di simpang gudang semen yang setiap hari dilalui ratusan warga, abu putih itu kembali menari di udara. Bukan tarian keindahan, melainkan layang-layang racun yang menutup pandangan, menyesakkan dada, dan perlahan menggerogoti kesehatan masyarakat. Rabu, 10/12/2025
Di tengah hiruk-pikuk akses jalan menuju Inalum, polusi dari gudang semen yang diduga kuat beroperasi tanpa AMDAL dan tanpa izin penempatan ini sudah lama menjadi duri yang dibiarkan tumbuh. Debu itu turun seperti “hujan halus kematian”, mengubur aspal, rumah penduduk, hingga paru-paru mereka yang terpaksa menghirupnya setiap hari.
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batu Bara telah turun dan membenarkan kondisi lapangan yang mengkhawatirkan. Teguran sudah dilayangkan, tetapi bagi masyarakat, teguran itu hanyalah kertas formalitas yang tak mampu menghentikan hembusan abu yang setiap hari menyiksa.
Syahrizal, seorang pengguna jalan yang saban hari melintas, melontarkan ujaran pedas yang mencerminkan amarah banyak pihak:
“Ini bukan rahasia lagi. Abu ini seperti racun yang sengaja dihembuskan ke wajah kami. Mata perih, napas sesak, motor sampai putih. Pemerintah seperti pura-pura buta. Sampai kapan? Tunggu ada yang tumbang dulu baru mau bertindak?” Ujar Syahrizal dengan marah
Keselamatan warga bukan arena tawar-menawar. Setiap abu yang beterbangan adalah sinyal bahaya, setiap batuk warga adalah alarm yang seharusnya mengguncang meja pengambil kebijakan.
Media akan terus mengawal persoalan ini. Bila pemerintah daerah tetap lembek dan hanya menjadi penonton dari kerusakan yang terjadi, bukan tidak mungkin masalah ini bergulir ke forum yang lebih tinggi, melibatkan legislatif hingga aparat penegak hukum.
“Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan, meski telah berkali-kali dikonfirmasi oleh media.”
Redaksi | Pena Nasional
