Kuala Tanjung, penanasional.id | Aroma ketegangan kembali menyelimuti gerbang industri. Aksi keempat terkait dugaan pelanggaran di tubuh Koperasi Karyawan Inalum pecah bak gelombang yang menabrak dinding ketidakpastian. Para pendemo bertopeng—yang sebelumnya mengguncang publik dengan keberanian mereka—kembali muncul dan membuat gebrakan yang lebih berani, lebih tajam, dan lebih simbolik.
Kamis, 04/12/2025, menjadi saksi bagaimana jalanan berubah menjadi panggung protes. Pendemo bertopeng itu membawa serta gambar-gambar figur yang mereka duga sebagai aktor di balik carut-marut manajemen Kokalum dan DMC. Gambar-gambar itu mereka angkat tinggi, seolah-olah ingin menunjukkan pada dunia: “Inilah wajah-wajah yang harus bertanggung jawab.”
Di tengah hari yang mulai senja, seorang lelaki bertopeng putih berdiri sebagai orator utama. Suaranya menggema, menembus lapisan udara yang dipenuhi rasa kecewa dan amarah.
“Kami tidak akan berhenti sebelum kebenaran dibuka!” teriaknya, lantang, tajam, dan mengguncang. Seruan itu laksana dentuman genderang perlawanan.
Aksi ini menjadi pesan keras kepada pihak perusahaan: agar tidak lagi bersembunyi di balik diam. Agar tidak lagi membiarkan para korban terjerat dalam polemik kongkalikong yang selama ini dibicarakan di bawah meja kini menampakkan bayangannya di tengah jalan dituding oleh poster dan dipertontonkan melalui aksi.
Hingga rilis ini disampaikan, tidak ada satu pun keterangan resmi dari pihak perusahaan. Sunyi. Hening. Sementara di luar sana, topeng-topeng itu masih berdiri tegak, menunggu jawaban. Menunggu siapa yang akhirnya berani membuka tabir permasalahan yang selama ini ditutup rapat. (Reni)
