Kuala Tanjung, penanasional.id — Gelombang keresahan warga kembali membuncah. Jalan Access Road Inalum yang semestinya menjadi nadi pergerakan masyarakat kini seolah berubah menjadi “lorong bahaya” akibat kendaraan berat milik PT. BP yang parkir semena-mena. Bak raksasa besi yang dibiarkan tidur di tengah jalan, keberadaannya merampas ruang aman pengendara dan menebar ancaman di setiap tikungan. Senin, 24/11/25
Setelah suara keras Tokoh Pemuda Idil Asri dan Kepala Desa Kuala Tanjung Ipnul Fandika, SE menggema, kini tamparan kritik datang dari Pemuda Pemudi Industri Kuala Tanjung (PPIKT).
Sekretaris PPIKT, Reni Pena, melontarkan kecaman tajam yang menusuk jantung persoalan: kelalaian Dishub dan abainya PT. BP.
“Dishub Batubara seperti menutup mata dalam gelap yang mereka ciptakan sendiri. Pelanggaran ini terhampar di depan mata, tetapi sikap mereka justru membisu. Diam yang memekakkan,” tegas Reni Pena.
Reni menambahkan bahwa PT. BP seolah berdiri di menara gadingnya sendiri, membiarkan kendaraan berat mereka merampas badan jalan tanpa memikirkan keselamatan rakyat.
“PT. BP tak boleh berpaling dari tanggung jawab. Kendaraan berat bukan benda mati—ia bisa menjadi bahaya yang menerkam kapan saja. Jangan jadikan jalan masyarakat sebagai gudang parkir perusahaan,” ujarnya.
Reni menyebut kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan teknis, tetapi pertaruhan nyawa. Jalan padat kendaraan telah berubah menjadi gelanggang risiko akibat pembiaran yang terlalu lama.
“Jika Dishub terus bungkam, maka diam mereka adalah cermin kelalaian. Dan kelalaian itu bisa berujung pada korban. Kami tidak akan tinggal diam,” tegas Reni dengan suara penuh amarah tertahan.
Hingga rilis ini diterbitkan, PT. BP tetap tidak memberi komentar meski telah dikonfirmasi melalui WhatsApp. Sementara itu, Dishub Batubara juga masih terbungkuk dalam senyap, seolah waktu berhenti di meja mereka.
Redaksi | PENA NASIONAL
SYAHRIZAL
