Batu Bara, penanasional.id
Mentari pagi belum tinggi, namun Tanah Merah telah bersiap menyambut titah agung. Langkah beradat menapak bumi, ketika Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Kualuh Leidong, Tengku Zainul Abidin Alhajj, berkenan melakukan lawatan kunjungan ke Negeri Tanjung. Minggu, 04/01/2026
Penyambutan sederhana namun sarat makna itu berlangsung di RM Pring Sewu, Tanah Merah, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, dipimpin langsung oleh Dato’k Ismail Tanjung, yang dikenal bergelar Dato’k semua Negeri.
Sederhana pada rupa, tetapi megah pada marwah.
Sejak pukul 08.00 WIB, pertemuan beradat digelar dalam suasana penuh kekeluargaan dan kearifan Melayu. Agenda utama membahas penutupan dan penetapan kedatukan yang telah dititahkan pada 23 November 2025 lalu, sebagai ikhtiar merawat kesinambungan adat, menjaga batas pusaka, dan menegakkan sendi-sendi kebesaran Melayu di Negeri Tanjung.
Lawatan dilanjutkan dengan kunjungan keliling kawasan industri Kuala Tanjung, sebagai isyarat bahwa adat tidak berpaling dari zaman, dan marwah tidak tercerabut dari pembangunan. Rangkaian kegiatan diteruskan dengan makan siang bersama di RM Pring Sewu, shalat berjamaah, serta temu ramah yang berlangsung hangat, akrab, dan penuh rasa persaudaraan.
Penyambutan tersebut menjadi cermin falsafah Melayu:
“Yang datang dimuliakan, yang pergi dikenangkan.” Dato’k Ismail Tanjung
“Hari ini bukan sekadar pertemuan, tetapi pertautan adat dan amanah. Kehadiran Tuanku Sultan adalah cahaya bagi Negeri Tanjung. Kami menyambut bukan dengan kemewahan, melainkan dengan keikhlasan, sebab adat yang sejati lahir dari hati yang tunduk kepada marwah.” ujar Dato’k Ismail Tanjung.
Titah Duli Yang Maha Mulia Sultan Kualuh Leidong
“Adat bukan hiasan masa lalu, melainkan penuntun masa hadapan. Selagi adat dijunjung dan agama dipeluk, selagi itulah Melayu berdiri tegak di bumi sendiri. Negeri Tanjung adalah bagian dari sejarah, dan sejarah wajib dijaga dengan amanah.” titah Tuanku Sultan Tengku Zainul Abidin Alhajj.
Lawatan ini menjadi penanda bahwa adat Melayu tetap hidup, bernafas, dan menyatu dengan denyut zaman. Di tengah deru industri dan perubahan, Negeri Tanjung mengingatkan: marwah tidak boleh tergadai, dan adat tidak boleh dilupakan.
Tanah bertuah disapa titah,
adat dijunjung, marwah terpelihara
REDAKSI: PENANASIONAL.ID