BATU BARA, penanasional.id – Kepedulian terhadap lingkungan kini menghadirkan makna lebih luas. Bukan sekadar menjaga kebersihan, sampah yang selama ini dipandang sebagai barang tak bernilai justru disulap menjadi sumber kebaikan untuk membantu pendidikan anak yatim dan keluarga kurang mampu. Selasa, 03/11/2026
Melalui program “Sedekah Sampah, Bantu Anak Yatim Sekolah”, Bank Sampah Berseri, kelompok binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM, menggandeng Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al Mukhlisin di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
Sebanyak 248 siswa dari total 406 peserta didik dilibatkan dalam gerakan pengumpulan sampah anorganik, seperti botol plastik, kaleng, dan kardus bekas. Hasil penjualan sampah tersebut nantinya dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan 12 siswa yatim dari keluarga kurang mampu.
Kepala Departemen Pemberdayaan Masyarakat INALUM, Ali Hasian, mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, program ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.
Ia berharap gerakan sederhana ini mampu menanamkan kebiasaan memilah sampah sekaligus membangun semangat berbagi sejak usia dini.
“Program ini merupakan langkah sederhana namun memiliki dampak positif karena mengajarkan anak-anak bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial,” ujar Ali.
Dari Sampah Menjadi Sedekah Pendidikan
Pelaksanaan program melibatkan siswa dari sembilan kelas tingkat 3 hingga 6. Sampah dikumpulkan melalui tempat penampungan yang tersedia di masing-masing kelas.
Petugas Bank Sampah Berseri melakukan penimbangan setiap Rabu dan Sabtu sebelum sampah dibawa ke bank sampah untuk dipasarkan. Pengumpulan tersebut ditargetkan mencapai 35 kilogram setiap bulan.
Pembina Bank Sampah Berseri, Dedi Syahputra, menjelaskan bahwa program ini bukan semata-mata tentang nilai ekonomi sampah, tetapi juga pendidikan karakter dan kepedulian terhadap sesama.
“Sedekah sampah ini harapannya untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak bahwa sedekah itu tidak harus uang. Mereka bisa membantu sesama kawannya dan bertanggung jawab dengan sampahnya,” ungkap Dedi.
Berbeda dengan mekanisme bank sampah pada umumnya yang mencatat hasil setoran sebagai tabungan pribadi, program ini menghimpun sampah sebagai bentuk sedekah bersama. Nilai ekonominya kemudian diarahkan untuk membantu teman-teman mereka yang membutuhkan.
Kepala MIS Al Mukhlisin, Devi Apriani, menyambut positif program tersebut. Ia berharap hasil pengumpulan sampah dapat membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah anak-anak yatim.
“Berapapun yang kami dapat dari bank sampah, nanti juga kami belikan tas sekolah atau sepatu, yang bermanfaat untuk anak-anak itu,” tuturnya.
Ekonomi Sirkular yang Menghadirkan Manfaat Sosial
Bank Sampah Berseri merupakan salah satu kelompok binaan INALUM yang mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Tidak hanya bergerak dalam pengumpulan dan penjualan sampah anorganik, kelompok ini juga mengembangkan berbagai kegiatan produktif, mulai dari budidaya tanaman hidroponik, peternakan ayam petelur, budidaya maggot hingga sektor perikanan.
Sistem pemberdayaan tersebut turut mendapat perhatian dan apresiasi dari Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, yang menilai pengelolaan Bank Sampah Berseri sebagai inovasi menarik karena mengintegrasikan sejumlah kegiatan produktif dalam satu sistem yang saling mendukung.
Kini, melalui program Sedekah Sampah, manfaat Bank Sampah Berseri semakin diperluas. Pengelolaan lingkungan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga membuka ruang kepedulian dan gotong royong dalam membantu pendidikan anak-anak yang membutuhkan.
Bagi INALUM, pengembangan kelompok binaan seperti Bank Sampah Berseri merupakan bagian dari dukungan perusahaan terhadap pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan kepedulian lingkungan, kemandirian ekonomi, dan manfaat sosial berkelanjutan.
Pada akhirnya, gerakan ini membawa pesan sederhana namun bermakna: tidak semua kebaikan harus dimulai dari uang. Dari botol plastik, kardus, dan kaleng bekas pun, harapan untuk masa depan anak-anak dapat tumbuh.
Sampah yang dipilah menjadi berkah, kepedulian yang ditanam menjadi kebiasaan, dan sedekah yang dikumpulkan bersama menjadi jembatan bagi anak-anak untuk terus menggapai cita-cita. RED
