YOGYAKARTA, PENA NASIONAL – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan zaman yang kian kompleks, Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Bagian Tengah dan Timur (JABAGTENGTIM) menorehkan langkah penting dalam perjalanan organisasi. Melalui Musyawarah Daerah (Musda) yang digelar di Yogyakarta, Rabu (21/10/2026), BADKO HMI JABAGTENGTIM resmi meluncurkan E-Khittah Perjuangan, sebuah inovasi digital untuk mendekatkan nilai-nilai ideologis HMI ke dalam kehidupan sehari-hari kader. Sabtu, 24/10/2026

Musda yang dihadiri utusan cabang-cabang HMI se-wilayah Jawa Bagian Tengah dan Timur tersebut bukan sekadar forum rutin organisasi. Lebih dari itu, perhelatan ini menjadi ruang evaluasi, pertanggungjawaban, sekaligus momentum merumuskan arah perjuangan HMI dalam menjawab tantangan masa depan.

Musda Bukan Sekadar Formalitas, tetapi Pertanggungjawaban Perjuangan

Ketua BADKO HMI JABAGTENGTIM periode 2023–2025, Fajar Sumardhan, menegaskan bahwa Musda memiliki makna mendalam, bukan hanya sebagai mekanisme pergantian kepemimpinan, melainkan juga sebagai ruang pertanggungjawaban moral dan spiritual bagi setiap insan organisasi.

“Musda adalah forum pertanggungjawaban kita di dunia, sebelum kelak kita mempertanggungjawabkan semuanya di akhirat. Karena itu, forum ini harus dijalani dengan penuh kesungguhan,” tegas Fajar.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan organisasi tidak boleh berhenti pada seremoni, jabatan, ataupun pergantian kepengurusan. Setiap keputusan yang lahir dari forum tertinggi di tingkat BADKO harus memiliki makna, arah, dan dampak nyata bagi keberlangsungan perkaderan.

Fajar berharap Musda mampu melahirkan gagasan-gagasan progresif yang tidak sekadar terdengar lantang di ruang persidangan, tetapi juga diwujudkan melalui kerja nyata, terutama dalam memperkuat perkaderan sebagai jantung kehidupan HMI.

Baginya, masa depan organisasi sangat ditentukan oleh kesungguhan kader dalam memahami nilai perjuangan, menjaga integritas, serta menerjemahkan idealisme menjadi tindakan konkret di tengah masyarakat.

E-Khittah Perjuangan: Nilai Ideologi dalam Genggaman Kader

Salah satu momentum penting dalam Musda kali ini adalah grand launching E-Khittah Perjuangan, versi digital dari Khittah Perjuangan HMI yang menjadi salah satu landasan ideologis gerakan organisasi.

Peluncuran ini berangkat dari kesadaran bahwa di tengah perubahan pola komunikasi dan kebiasaan generasi muda, bahan ideologis organisasi harus semakin mudah dijangkau. Nilai perjuangan tidak cukup hanya diwariskan melalui forum formal atau disimpan dalam lembaran dokumen, tetapi harus hadir dekat dengan kehidupan kader.

“Kami ingin manhaj gerakan HMI ini hadir di gadget seluruh kader, di mana pun mereka berada. Khittah Perjuangan tidak boleh hanya tersimpan di rak, tetapi harus mudah diakses, dibaca, dan dihayati setiap hari,” jelas Fajar.

Melalui E-Khittah Perjuangan, kader diharapkan dapat mempelajari dan mendalami Khittah Perjuangan kapan saja dan dari mana saja. Digitalisasi ini sekaligus menjadi ikhtiar untuk menjembatani nilai-nilai dasar organisasi dengan perkembangan teknologi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa.

Namun, digitalisasi bukanlah tujuan akhir. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana kemudahan akses tersebut mampu mendorong kader semakin memahami ideologi, memperkuat karakter, serta mengamalkan nilai perjuangan dalam kehidupan nyata.

Sebab, teknologi hanya menyediakan jalan; kesungguhan kaderlah yang menentukan sejauh mana nilai perjuangan dapat tumbuh, berakar, dan memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.

Peluncuran E-Khittah Perjuangan pun diharapkan menjadi langkah awal dalam memperluas digitalisasi bahan perkaderan HMI, sekaligus membangun tradisi belajar yang lebih adaptif, terbuka, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Soroti Ketidakhadiran PB HMI

Di balik semangat pembaruan yang mengemuka dalam Musda, Fajar juga menyampaikan kekecewaannya atas ketidakhadiran Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).

Menurutnya, Musda merupakan ruang strategis untuk memperkuat komunikasi, koordinasi, dan sinergi antara PB HMI, BADKO, serta cabang-cabang di daerah. Kehadiran PB HMI dinilai dapat memberikan makna tersendiri, terutama dalam membangun kesamaan pandangan mengenai arah organisasi dan masa depan perkaderan.

“Kami sangat menyayangkan PB HMI tidak hadir. Musda adalah ruang strategis untuk memperkuat sinergi antara PB, BADKO, dan cabang. Kehadiran PB tentu akan memberi makna lebih bagi kader di daerah,” tuturnya.

Sorotan tersebut menjadi catatan penting mengenai perlunya komunikasi dan keterhubungan yang lebih kuat di antara berbagai tingkatan kepemimpinan HMI. Di tengah tuntutan pembaruan organisasi, soliditas tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi juga perlu diwujudkan melalui kehadiran, dialog, dan komitmen bersama.

Meski demikian, Musda tetap berlangsung hingga tuntas dengan semangat menyelesaikan agenda organisasi dan menentukan tahapan kepemimpinan berikutnya.

Tiga Nama Calon Formatur, Menanti Keputusan PB HMI

Musda BADKO HMI JABAGTENGTIM menghasilkan tiga nama calon formatur yang selanjutnya akan diserahkan kepada PB HMI untuk ditetapkan sebagai Ketua BADKO HMI JABAGTENGTIM periode berikutnya.

Hasil tersebut menandai berlanjutnya proses regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi. Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin BADKO diharapkan mampu menjaga kesinambungan perjuangan, memperkuat perkaderan, serta menerjemahkan gagasan pembaruan menjadi program yang nyata dan terukur.

Pada akhirnya, keberhasilan Musda tidak hanya ditentukan oleh lancarnya persidangan atau lahirnya kepemimpinan baru. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana forum tersebut mampu melahirkan kader yang kokoh secara ideologis, matang dalam berpikir, dan konsisten dalam pengabdian.

Peluncuran E-Khittah Perjuangan menjadi salah satu penanda bahwa perjuangan organisasi harus mampu bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan pijakan nilai.

Di tengah dunia yang semakin terhubung oleh teknologi, pesan yang hendak ditegaskan tetaplah sama: ideologi tidak boleh berhenti sebagai bacaan, perjuangan tidak boleh berhenti sebagai slogan, dan perkaderan tidak boleh kehilangan ruh pengabdiannya.

Dari Yogyakarta, BADKO HMI JABAGTENGTIM berupaya membuka jalan agar Khittah Perjuangan semakin dekat dengan kader—bukan hanya dalam genggaman perangkat digital, melainkan juga tertanam dalam pikiran, tercermin dalam sikap, dan terwujud melalui tindakan nyata. RED

PENA NASIONAL | Redaksi

Share.

Adminitrator Pena Nasional Aktual Tajam & Akurat

Leave A Reply

Exit mobile version