BATU BARA, penanasional.id – Di bumi Melayu yang bersendikan adat, berpayungkan daulat, dan berakar pada pusaka leluhur, marwah bukan sekadar sebutan, melainkan kehormatan yang wajib dipelihara sepanjang zaman. Senin, 02/11/2026
Ketua Laskar Melayu Batu Bara, Datu’ Panglima Askar Diraja Abdul Kholid Zailani, menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama masyarakat adat dalam menjaga kehormatan, memperkuat kelembagaan adat, serta memperjuangkan perlindungan hak-hak masyarakat Melayu.
Baginya, adat bukan barang usang yang ditinggalkan zaman. Adat adalah tunjuk ajar kehidupan, warisan yang berurat berakar, serta jati diri yang tidak boleh tercerabut dari tanah tempat sejarah Melayu bermula.
Dukungan tersebut sejalan dengan seruan Kerapatan Adat Diraja Tanjung Kasau yang disampaikan oleh Tengku Ismed Indra selaku Raja Tanjung Kasau. Ia mengingatkan bahwa negara tidak boleh berpaling dari amanah konstitusi dan ketentuan hukum dalam memberikan perlindungan serta pengakuan terhadap masyarakat adat.
Sebab, menjaga adat bukan hanya tentang mengenang kebesaran masa silam, tetapi juga memastikan anak cucu kelak tidak kehilangan jejak sejarah, tidak tercerabut dari akar budayanya, dan tidak menjadi tamu di tanah warisan leluhurnya sendiri.
Abdul Kholid Zailani berpandangan, perjuangan menjaga marwah Melayu harus berjalan seiring dengan penguatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pengakuan hak-hak tradisional, serta pembinaan generasi muda.
Ia juga menyerukan agar seluruh elemen Melayu merapatkan barisan. Sebab, sebesar apa pun nama sebuah lembaga, setinggi apa pun gelar kebesaran, tidak akan memiliki makna apabila persatuan tercerai-berai.
Dalam ungkapannya yang sarat makna, Abdul Kholid menegaskan:
“Adat dijunjung, marwah dikandung. Pusaka leluhur jangan sampai hilang ditelan zaman. Melayu bukan sekadar nama, bukan pula hanya simbol kebesaran. Melayu adalah jati diri, kehormatan, dan amanah yang harus kita pertahankan.
Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mendengar kisah tentang kebesaran adat Melayu, tetapi tak lagi mengenal akar budayanya sendiri. Jangan sampai warisan leluhur tinggal menjadi cerita, sementara hak dan kehormatan masyarakat adat terabaikan.
Selagi hayat dikandung badan, selama itu pula marwah harus dijaga. Bukan untuk meninggikan diri, bukan untuk mencari pujian, melainkan demi menjaga amanah pusaka dan kehormatan anak negeri.”
Lebih jauh, ia berharap terbangunnya sinergi yang kokoh antara lembaga adat, pemerintah, tokoh masyarakat, dan generasi muda. Bukan sekadar duduk semeja dalam seremonial, melainkan benar-benar menyatukan langkah, menyelaraskan pandangan, dan menghadirkan tindakan nyata bagi kepentingan masyarakat adat.
Sebab, Melayu tidak akan besar hanya dengan menyebut kebesarannya. Melayu akan tetap bermartabat apabila adatnya dihormati, hak masyarakatnya dilindungi, persatuannya dipelihara, dan marwahnya dijaga.
Takkan Melayu hilang di bumi, selagi adat menjadi suluh, persatuan menjadi kekuatan, dan marwah menjadi pegangan.
LASKAR MELAYU BATU BARA – MENJUNJUNG ADAT, MENJAGA MARWAH, MEMBELA HAK ANAK NEGERI.
Redaksi: Pena Nasional – Mhd. Soleh Reni


