Batu Bara, penanasional.id
Di tanah yang dipeluk angin Selat Malaka, di negeri yang sejak dahulu dikenal dengan adat bersendi syarak dan syarak bersendi Kitabullah, denting lagu Melayu kembali bergema. Minggu malam, 1 Februari 2026, di hadapan Gedung Inalum, Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Festival Lagu Melayu Kabupaten Batu Bara Jilid I Tahun 2026 resmi ditutup dengan penuh khidmat dan rasa bangga. Senin,02/02/2026

Mengusung tema “Mengangkat dan Mempertahankan Lagu Budaya Melayu”, festival ini bukan sekadar ajang perlombaan suara, melainkan perhelatan marwah—tempat nilai, rasa, dan jati diri Melayu dipertautkan kembali melalui irama dan syair.

Sejak senja merapat hingga malam menutup langit pesisir, satu per satu peserta naik ke pentas, menyanyikan lagu-lagu Melayu yang sarat makna, petuah, dan sejarah. Nada-nada itu mengalir seperti sungai yang tak pernah kering, menghubungkan masa lalu dengan harapan masa depan.

Para Juara: Suara Terbaik Anak Melayu Batu Bara

Setelah melalui penilaian dewan juri yang cermat dan berimbang, para pemenang pun diumumkan:
Juara I diraih oleh Wan Azazira, putri berbakat dari Tanjung Tiram, yang tampil memukau dengan olah vokal matang dan penghayatan mendalam.

Juara II jatuh kepada Mhd. Jaka Syahputra dari Kuala Tanjung, tuan rumah yang membuktikan bahwa tanah sendiri tak pernah kekurangan talenta.

Juara III diraih oleh Kamarudin Hasbi dari Petatal, Lima Puluh, dengan penampilan yang kuat dan penuh rasa.

Sorak tepuk tangan pun mengalun, bukan hanya untuk para pemenang, tetapi untuk seluruh peserta yang telah berani tampil dan menjaga nyala lagu Melayu tetap hidup.

KETUA PANITIA

Ketua Panitia: Melayu Masih Bernyawa

Ketua Panitia, AS’AD FIKRI, dalam pernyataannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam.

“Alhamdulillah, Festival Lagu Melayu Kabupaten Batu Bara Jilid I Tahun 2026 telah kita selesaikan dengan baik dan lancar. Ini adalah bukti bahwa lagu dan budaya Melayu masih hidup dan terus berkembang di Batu Bara,” ujarnya.

Ia mengapresiasi dukungan masyarakat Desa Kuala Tanjung, Kuala Indah, dan Desa Lalang, serta kerja keras seluruh panitia yang selama berbulan-bulan mengorbankan tenaga dan waktu demi terselenggaranya festival ini.

“Kepada para juara, tetaplah rendah hati dan terus berkarya. Bagi yang belum berhasil, jangan berkecil hati. Lagu Melayu adalah rumah besar kita bersama. Harapan kami, festival ini tidak berhenti di Jilid I, tetapi berlanjut ke Jilid II, III, IV, dan seterusnya,” tuturnya penuh harap.


Dato’ Laksamana: Menjaga Marwah, Menyiapkan Generasi

Sementara itu, tokoh adat Melayu Batu Bara, Dato’ Riansyah Putra Efendi Tanjung, SH, selaku Dato’ Laksamana Setia Diraja, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya festival perdana ini.

“Ini adalah langkah besar dalam mengangkat dan mempertahankan budaya Melayu, khususnya di kalangan generasi muda. Lagu Melayu bukan sekadar hiburan, tetapi warisan nilai dan jati diri,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para kepala desa—Kuala Tanjung, Kuala Indah, dan Lalang—serta perusahaan dan mitra industri di kawasan Kuala Tanjung, termasuk PT Inalum, Wilmar, para kontraktor, dan pihak terkait lainnya, yang telah memberikan dukungan nyata.

“Mari kita bangkitkan kembali marwah budaya Melayu dan mendorong lahirnya generasi muda Melayu yang berprestasi dan berkarakter. Festival ini patut menjadi agenda berkelanjutan demi kejayaan Melayu Batu Bara,” tegasnya.

Melayu Tak Lapuk di Hujan, Tak Lekang di Panas

Festival Lagu Melayu Batu Bara Jilid I Tahun 2026 telah usai, namun gema dan maknanya masih bergetar di dada. Dari pesisir Kuala Tanjung, sebuah pesan disampaikan ke seluruh penjuru: Melayu tidak pernah hilang, selama lagu, adat, dan budayanya terus dijaga dan diwariskan.

Dan malam itu, Batu Bara kembali menjadi saksi—bahwa Melayu masih bernyanyi, masih berdiri, dan masih bermarwah.

 

REDAKSI: PENA NASIONAL

Share.

Adminitrator Pena Nasional Aktual Tajam & Akurat

Leave A Reply

Exit mobile version