Batubara, penanasional.id | Malam turun di Kota Medan, menyelimuti gedung-gedung tua dengan cahaya lampu kekuningan. Dari kejauhan, kendaraan hilir-mudik seperti kunang-kunang di lautan aspal. Di tengah hiruk pikuk kota, berdirilah sebuah penginapan murah—tempat yang tampak biasa, tetapi malam itu menjadi panggung dari drama yang mengguncang Kabupaten Batu Bara. Senin, 17/11/2025

 

Dalam bayang-bayang lorong sempitnya, dua sosok memasuki sebuah kamar:

RY, seorang Kepala Bidang di Disdukcapil Batu Bara, dan YD, tenaga honorer yang dikenal cekatan dalam pekerjaannya.

Langkah mereka cepat, isyarat bahwa sesuatu disembunyikan. Namun detik-detik itu menjadi awal badai.

Para warga yang mengikuti gerak-gerik mencurigakan melaporkan kehadiran keduanya. Ketika pintu kamar itu akhirnya dibuka oleh pihak yang mengetahui kejadian, RY dan YD ditemukan berada di dalam satu ruangan yang sama.

Suara kabar itu menyebar seperti petir menyambar bukit tandus—cepat, keras, dan tidak terhindarkan.

Tokoh Pemuda Menyala: Acik Olan Muncul ke Garis Depan

Di tanah Batu Bara, seorang pemuda lantang bersuara, Acik Olan, berhadapan dengan kerumunan warga dan awak media. Angin sore menyibakkan rambutnya saat ia berbicara, wajahnya penuh ketegasan seperti karakter utama anime yang tak gentar menghadapi ketidakadilan.

 “Disdukcapil itu tempat pelayanan publik, bukan tempat menyalurkan hasrat pribadi,” serunya keras.

Aura kemarahan dan idealismenya terasa seperti energi berwarna merah menyala.

Ia menilai kejadian ini bukan sekadar insiden tunggal, tetapi pola lama yang berulang.

 “Plt Kepala Disdukcapil harus dicopot. Ini bukti kedisiplinan tidak ditegakkan,” katanya tegas.

Kata-katanya bergema di antara warga yang tampak menahan amarah, seakan Batu Bara berubah menjadi panggung besar drama moral.

Plt Kadis Disdukcapil, Rahmad Khaidir Lubis: “Akan Ditindak Tegas”

Sementara itu, di ruang kerjanya yang sunyi, Rahmad Khaidir Lubis, S.STP., M.AP, duduk dengan wajah serius. Lampu meja menyinari berkas laporan — atmosfer seperti adegan ruang komando dalam anime investigasi.

Saat diwawancarai wartawan, ia mengangguk pelan, mengakui bahwa kejadian tersebut memang melibatkan pegawainya.

“Meski terjadi di luar jam kerja dan di luar wilayah tugas, tindakan ini tetap mencoreng nama Disdukcapil,” ujarnya.

Mata Rahmad tampak tajam, pertanda tekad yang mengeras.

 “Kami pastikan kasus ini akan ditindak tegas sesuai aturan.”

Nada suaranya seperti komandan yang bersumpah memulihkan kehormatan lembaga.

Penutup Episode: Batu Bara Menahan Nafas

Warga Batu Bara kini menunggu langkah resmi Pemerintah Kabupaten. Di atas kantor Disdukcapil, burung-burung terbang rendah seperti simbol bahwa badai belum reda.

Apakah tindakan disiplin akan dijatuhkan?

Akankah sistem berubah?

Atau ini hanya salah satu bab dari drama panjang yang belum selesai?

 

Redaksi | Pena Nasional

Share.

Adminitrator Pena Nasional Aktual Tajam & Akurat

Leave A Reply

Exit mobile version