Pena Nasional, BATU BARA – Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumatera Utara melalui Markas Polairud Batu Bara bersama Tim SAR Gabungan terus melaksanakan operasi pencarian terhadap seorang anak buah kapal (ABK) nelayan yang dilaporkan terjatuh ke laut di perairan Selat Malaka, sekitar Pulau Berhala, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Minggu, 26/07/26
Memasuki hari keempat operasi pencarian, Minggu (26/7/2026), Tim SAR Gabungan memulai kegiatan pada pukul 07.30 WIB dengan apel dan briefing sebelum menyisir lokasi pencarian.
Operasi dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU). SRU I melakukan pencarian menggunakan perahu nelayan, sedangkan SRU II menggunakan Kapal Polisi KP II-2025 milik Polairud Pagurawan. Kedua tim menerapkan metode Expanding Square Search dengan cakupan area pencarian sekitar ±132 mil laut persegi pada masing-masing sektor.
Selain penyisiran di laut, Tim SAR Gabungan juga berkoordinasi dengan Pos Satgas Marinir Pengamanan Pulau Berhala serta para nelayan yang beraktivitas di sekitar lokasi kejadian untuk memperoleh informasi terbaru terkait keberadaan korban.
Hingga pukul 15.00 WIB, upaya pencarian belum membuahkan hasil. Selanjutnya, Kapal Polisi KP II-2025 kembali menuju Pos Airud Pagurawan karena kondisi dermaga di Pulau Berhala dinilai kurang efektif untuk tempat sandar kapal.
Sekitar pukul 17.00 WIB, seluruh unsur SAR tiba di Dermaga KPLP Pagurawan. Operasi SAR hari keempat kemudian dihentikan sementara dengan hasil masih nihil dan akan dilanjutkan kembali pada Senin, 27 Juli 2026, mulai pukul 07.00 WIB.
Korban yang masih dalam pencarian diketahui bernama Wanda (30), seorang ABK kapal nelayan jaring pari yang dilaporkan terjatuh ke laut saat melakukan aktivitas penangkapan ikan di perairan Selat Malaka.
Operasi pencarian melibatkan personel Polairud Pagurawan, Tim Rescue Pos SAR Tanjung Balai Asahan, Pos TNI AL Pagurawan, pemerintah setempat, keluarga korban, serta didukung sejumlah sarana dan prasarana, di antaranya Kapal Polisi KP II-2025, Rescue Car, kapal nelayan, peralatan water rescue, alat komunikasi, alat pelindung diri (APD), dan kantong jenazah.
Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi sejumlah kendala, di antaranya arus laut yang cukup kuat dan berubah-ubah sehingga memengaruhi pergerakan korban (drift), serta luasnya area pencarian yang harus disisir. Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi cuaca selama operasi berlangsung berawan dengan gelombang sekitar 0,6 meter.
Kanit Markas Polairud Batu Bara, IPDA Hendrico P. Kaban, S.H., M.H., mengatakan bahwa seluruh unsur SAR tetap berkomitmen melaksanakan pencarian secara maksimal hingga korban berhasil ditemukan.
“Kami bersama seluruh unsur SAR Gabungan terus mengoptimalkan upaya pencarian dengan menyisir area yang telah ditentukan serta memperluas koordinasi dengan nelayan dan instansi terkait. Meskipun hingga hari keempat korban belum ditemukan, kami tidak akan mengurangi semangat dan dedikasi dalam operasi kemanusiaan ini. Kami juga mengimbau masyarakat, khususnya para nelayan yang beraktivitas di sekitar Pulau Berhala, agar segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda atau informasi yang berkaitan dengan keberadaan korban,” ujar IPDA Hendrico P. Kaban, S.H., M.H.
Operasi SAR dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Senin pagi dengan harapan korban segera dapat ditemukan.
